Antara Padi Ratun dan Salibu

Farmer in Rice Paddy Taiwan

Di Indonesia budidaya padi dengan cara memangkas batang setelah panen banyak dilakukan untuk padi lokal yang berumur panjang. Hasil pemangkasan (ratun) sering disebut sebagai padi singgang atau turiang. Padi lokal yang berumur panjang, setelah panen tanaman utama akan dibiarkan oleh petani hingga musim tanam tahun berikutnya. Dalam periode tersebut petani akan memanen ratun dalam waktu sekitar setengah dari periode tanaman utama, dengan produksi berkisar antara 40-60% dari panen tanaman utamanya.

Padi salibu berbeda dengan padi ratun. Ratun adalah padi yang tumbuh dari batang sisa panen tanpa dilakukan pemangkasan batang, tunas akan muncul pada buku paling atas, suplai hara tetap dari batang lama. Padi Salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas, tunas akan muncul dari buku yang ada didalam tanah tunas ini akan mengeluarkan akar baru sehingga suplai hara tidak lagi tergantung pada batang lama, tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama (ibunya).

Anakan padi salibu lebih banyak dibanding padi konvensional disebabkan pengaruh sifat genetik dan lingkungan, seperti ketersediaan air, tingkat kesuburan tanah, sinar matahari, suhu, serta keadaan hama dan penyakit tanaman. Dari aspek fisiologi dan karakter morfologi menunjukan perakaran padi Salibu lebih kuat dan luas sehingga proses penyerapan unsur hara lebih baik dibandingkan padi ratun. Hal ini sangat berpengaruh pada jumlah anakan padi dan jumlah gabah per malai. (Lingga Rizky)