Aplikasi Pupuk Organik Tingkatkan Efisiensi Pupuk Anorganik di Lahan Sawah

wacanaPupuk merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting selain ketersedian bibit unggul, lahan serta tenaga kerja. Pemupukan yang terpadu (anorganik dan organik) memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan produksi padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari aplikasi pupuk organik dalam peningkatan efisiensi pupuk anorganik dan kontribusi sumbangan hara N, P dan K dari adanya perbaikan sifat kimia serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi di rumah kaca. Perlakuan yang dilaksanakan berupa aplikasi beberapa jenis pupuk organik yang dikombinasikan dengan beberapa takaran pupuk anorganik (NPK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemberian 75% NPK yang dikombinasikan dengan 2 ton/ha pupuk organik Petroganik berpengaruh dalam meningkatkan ketersedian P tanah. Dilihat dari pertumbuhan tanaman, perlakuan 75% NPK dengan penambahan 2 ton/ha Petroganik jugan berpengaruh terhadap jumlah anakan, berat kering gabah dan jerami. Perlakuan ini juga memiliki nilai RAE yang cukup efektif,sehingga dapat dinyatakan bahwa dengan penambahan 2 ton/ha Petroganik dapat mengefisiensikan penggunaan pupuk anorganik hingga 25%.

 

Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari bahan yang sebagian besar berasal dari tanaman atau hewan yang telah melalui proses rekayasa untuk menyediakan hara terutama N dan C-organik, serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk organik dapat dibuat dari berbagai jenis bahan, antara lain sisa tanaman (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, sabut kelapa), serbuk gergaji, kotoran hewan, limbah media jamur, limbah pasar, rumah tangga, dan pabrik, serta pupuk hijau. Oleh karena bahan dasar pembuatan pupuk organik sangat bervariasi, maka kualitas pupuk yang dihasilkan sangat beragam sesuai dengan kualitas bahan dasar. Pupuk organik dapat diaplikasikan dalam bentuk bahan segar atau yang sudah dikomposkan. Pemakaian pupuk organik segar memerlukan jumlah yang banyak, sulit penempatannya, memerlukan waktu dekomposisi lama. Namun demikian, hal ini justru bermanfaat untuk konservasi tanah dan air, karena dapat melindungi permukaan tanah dari percikan air hujan. Pengomposan bahan organik dari sisa tanaman dan kotoran ternak akan memperkecil volume bahan dasar dan mematangkan pupuk sehingga hara segera tersedia bagi tanaman (Setyorini et al., 2004)

Pupuk organik bukan sabagai pengganti pupuk anorganik tetapi sebagai komplementer. Pupuk organik dapat mensuplai sebagian hara tanaman. Dengan demikian pupuk organik harus digunakan secara terpadu dengan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Oleh karena itu penggunaan pupuk kimia buatan yang tidak diimbangi dengan pemberian pupuk organik dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas biologi tanah. Fungsi kimia dari pupuk organik adalah sebagai penyediaan hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan mikro seperti Zn, Cu, Mo, Co, B, Mn, dan Fe, meskipun secara kuantitatif pupuk organik sedikit mengandung unsur hara, tetapi pupuk organik mampu meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah, serta dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam seperti Al, Fe, dan Mn sehingga logam-logam ini tidak meracuni. Fungsi fisika pupuk organik adalah memperbaiki struktur tanah karena bahan organik dapat “mengikat” partikel tanah menjadi agregat yang mantap; memperbaiki distribusi ukuran pori tanah sehingga daya pegang air (water holding capacity) tanah menjadi lebih baik dan pergerakkan udara (aerasi) di dalam tanah juga menjadi lebih baik, dan mengurangi energi dan makanan bagi mikro dan meso fauna tanah.

Dengan cukupnya tersedia bahan organik maka aktivitas organisme tanah yang juga mempengaruhi ketersediaan hara, siklus hara. Penerapan pemupukan berimbang berdasarkan hasil uji tanah dipadukan dengan pupuk organik bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk serta memperbaiki produktivitas tanah pertanian. Dimana jika pemupukan anorganik digunakan melampaui batas efisiensi teknis dan ekonomis akan berdampak terhadap pelandaian produksi (Adiningsih dan Soepartini, 1995). Berdasarkan data empiris hasil uji efektivitas pupuk organik menunjukkan bahwa pupuk organik dapat mengefisienkan pupuk anorganik (NPK) sekitar 25 sampai 50%, walaupun sebenarnya sumbangan hara N, P, dan K dari pupuk organik relatif kecil sekitar 5-10%, tergantung dari tingkat mineralisasi dari pupuk organik tersebut. Hal ini berarti 20 sampai 40% penyediaan hara N, P dan K berasal dari perbaikan sifat fisik tanah dan biologi tanah.

Aplikasi pupuk organik pada lahan sawah diharapkan dapat mengurangi dosis pupuk anorganik.Sumber pupuk organik yang dapat dimanfaatkan diantaranya jerami dan pupuk kandang. Penelitian ini memanfaatkan kedua sumber pupuk organik tersebut serta satu pupuk organik komersil. Dipilihnya jerami salah satu sumber pupuk organik dalam penelitian ini dikarenakan berdasarkan penelitian diketahui bahwa pengembalian jerami ke dalam lahan sawah sama artinya dengan memupuk kalium, karena 80% kandungan K pada tanaman padi terdapat dalam jerami. Oleh karena itu, jerami mempunyai nilai strategis yang tinggi untuk lahan sawah.

Pemberian bahan organik ke dalam tanah selain ditujukan sebagai sumber hara makro, mikro dan asam-asam organik juga berperan sebagai bahan pembenah tanah untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah dalam jangka panjang. Berdasarkan uraian diatas tujuan penelitian adalah untuk mempelajari aplikasi pupuk organik dalam peningkatan efisiensi pupuk anorganik dan kontribusi sumbangan hara N, P dan K dari adanya perbaikan sifat kimia serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi di rumah kaca.

 

Hasil penelitian membuktikan, aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik dapat meningkatkan ketersediaan kandungan P tanah. Terjadi efisiensi penggunaan pupuk anorganik sebesar 25% pada perlakuan 75% NPK yang dikombinasikan dengan 2 t/ha petroganik meskipun nilai RAE yang diperoleh tidak terlampau besar tetapi jika dilihat dari berat kering gabah,diketahui bahwa antara perlakuan 75%NPK yang dikombinasikan dengan 2 t/ha Petroganik tidak berbeda nyata dengan perlakuan NPK standar. Dari segi biologi tanah dari semua perlakuan terpilih, belum terlihat dapat meningkatkan populasi aktinomiset tetapi populasi bakteri dan jamur mengalami peningkatan dan peningkatan respirasi tanah terlihat pada perlakuan pukan sapi dan Petroganik.