Daya Saing Pangan Lokal di Pasar Modern

 

pemasaran 55

Indonesia memiliki produk olahan pangan lokal yang sangat beragam, baik yang berbentuk makanan utama, snack ringan, maupun minuman. Diversifikasi pangan ini biasanya berasal dari bahan baku utama singkong, ubi jalar, sagu, jagung, talas, buah-buahan, sayur-sayuran, rempah-rempah, maupun kacang-kacangan. Sayangnya pangan lokal kurang diminati di negeri sendiri. Sebagian besar masyarakat Indonesia lebih familiar dengan produk asing dibandingkan pangan lokal. Munculnya jaringan toko ritel bersamaan dengan menjamurnya supermarket telah mengubah saluran pemasaran produk makanan secara drastis. Saat ini sebagian besar konsumen telah beralih berbelanja di toko ritel modern karena menyediakan pilihan produk yang lebih variatif dan praktis.

Fakta lain tentang pasar modern menunjukkan bahwa daya serap ritel modern terhadap produk Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam negeri masih rendah, yakni sekitar 30-40% sampai tahun 2014. Produk UKM yang diserap antara lain makanan, minuman, hasil pertanian, serta hasil kerajinan industri rumahan. Tidak ada data rinci berapa persen daya serap ritel khusus untuk produk pangan. Dengan kata lain bahwa produk ritel modern didominasi oleh produk Multinational Company atau bahkan produk impor. Maka tidak mengherankan jika pangan lokal kurang diminati karena keberadaannya di ritel modern juga masih sedikit dan bisa jadi kalah bersaing dengan produk dari luar.

Kendala yang dihadapi UKM pengolahan makanan untuk menembus pasar modern adalah lemahnya daya saing produk, meliputi kualitas rasa, kemasan, dan kontinuitas. Beberapa produk UKM telah memenuhi standar pasar modern namun belum mampu memenuhi pasokan yang kontinyu mengingat ritel modern sangat menghindari kekosongan produk. Syarat utama produk untuk masuk ke pasar modern adalah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), nilai pangan, dan nilai gizi. Sesuai dengan UU Perlindungan Konsumen, maka ritel modern tentu sangat bertanggungjawab terhadap kualitas produk yang dipasarkan. Hal ini menuntut pordusen makanan untuk berinovasi dalam meningkatkan daya saing produk, yang meliputi kualitas produk, akses pasar, dan kontinuitas.

Kualitas produk makanan yang utama yakni rasa, nilai pangan, dan nilai gizi. Produk berkualitas saja tentu belum cukup, maka disini dibutuhkan inovasi sehingga pangan lokal yang dikenal sebagai pangan tradisional ini menjadi produk yang kompetitif di pasar. Inovasi misalnya dapat dilakukan dengan melakukan diversifikasi produk, rasa, dan kemasan. Riset pasar menjadi bagian yang penting dalam hal ini sehingga produsen dapat menggali informasi dari para pesaing, informasi pasar, dan lingkungan sehingga produsen dapat meluncurkan produk yang memenuhi persyaratan pasar (ritel) dan preferensi kosumen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa desain kemasan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli sehingga pemilihan kemasan menjadi bagian yang penting untuk meningkatkan daya saing produk.  (berandainovasi.com)