Groasis Waterbox, Teknologi Menghijaukan Padang Pasir Tandus

Jelajah 59

Menyulap padang pasir tandus menjadi lahan subur yang hijau sekarang bukan lagi hal yang mustahil. Dengan teknologi Groasis Waterbox, lahan tandus bisa ditanami berbagai jenis tanaman yang tumbuh subur. Pieter Hoff telah menciptakan Groasis Waterbox, sebuah ‘baskom ajaib’ yang mampu melahirkan aneka tumbuhan hijau pada berbagai kondisi cuaca dan lingkungan ekstrem sekalipun. Apapun tanaman yang ingin ditanam dan dimana pun akan ditanam, Groasis Waterbox dapat mewujudkannya. Teknologi sederhana dan murah ini telah terbukti mampu menghijaukan sejumlah wilayah di gurun Sahara, kawasan kering Afrika dan padang tandus di Equador.

Groasis Waterbox berbentuk tabung kecil yang mempunyai lorong sempit di pusatnya sebagai tempat diletakkan bibit tanaman, sementara tabungnya berfungsi sebagai tempat penampungan/reservoir air. Prinsip alat ini adalah menggunakan air seefisien mungkin untuk menumbuhkan tanaman. Untuk itu ada dua strategi yang digunakan, yaitu: mengumpulkan air sebanyak-banyaknya dan yang kedua adalah mengeluarkan air sehemat-hematnya. Untuk mengumpulkan air sebanyak-banyaknya, tutup tabung tersebut dibuat bergelombang dengan kemiringan menuju pusatnya. Dengan permukaan yang miring maka air hujan dengan mudah masuk ke dalam tabung. Selain itu, permukaan tutup tabung dirancang agar suhu permukaannya dingin sehingga embun lebih mudah terbentuk dan menambah cadangan air dalam reservoir. Namun bila tidak ada air hujan, cukup dimasukkan air sebanyak 18 liter.

Air yang sudah terkumpul dikeluarkan seefisien mungkin dengan dua cara. Cara pertama, yaitu dengan merembeskan air sehemat mungkin pada tanah di sekitar akar tanaman. Dengan cara ini air meresap ke tanah perlahan-lahan seiring dengan pertumbuhan akar. Begitu akar tanaman sudah mencapai kedalaman dimana terdapat air taanah maka alat ini sudah tidak diperlukan lagi dan tanaman tersebut akan tumbuh melesat. Cara kedua adalah dengan melindungi sekeliling tanaman dengan badan tabung. Badan tabung yang diameternya 50 cm, selain berfungsi untuk melindungi benih tanaman dari angin atau binatang pengganggu, juga berfungsi untuk meminimalisir penguapan dari air.

Mohammed, peneliti dari University Maroko pernah menguji alat ini dengan menanam sejumlah pohon di gurun Sahara. Sebagian menggunakan Groasis Waterbox dan sebagian lagi disiram dengan cara konvensional. Ternyata lebih dari 90 persen yang menggunakan Groasis Waterbox dapat bertahan sementara hanya sekitar 10 persen yang disiram secara konvensional yang tetap hidup. Manfaat Groasis Bos juga terlihat dari berbagai proyek penghijauan yang dilakukan di berbagai negara seperti Ekuador, Spanyol, sejumlah negaa di Afrika dan kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya. Di Ekuador, proyek penghijauan ini dapat menghasilkan buah-buahan lebih cepat pada tempat-tempat di mana tanaman sulit hidup. Di Spanyol, program reboisasi hutan dengan bantuan teknologi Groasis Waterbox mampu menghasilkan pepohonan rindang pada zona-zona bebatuan dan pegunungan bahkan area pertambangan yang kontur tanahnya rusak. Alangkah baiknya bila kita mencoba teknologi ini di beberapa kawasan kering dan tandus di negeri ini. (groasis.com dan sumber lain/Bayu)