Mengendalikan Gulma Tanaman Padi

hal 5-cBayangkan apa yang dapat terjadi bila tanaman padi sawah, padi ladang, atau ladang jagung tidak disiangi. Dalam waktu singkat, berbagai jenis rumput dan tumbuhan berdaun lebar akan tumbuh lebih tinggi dan kemudian menutupi tajuk tanaman. Jika penyiangan dilakukan terlambat maka pada saat panen dapat dipastikan hasil yang diperoleh tidak akan sebanyak hasil yang diperoleh bila dilakukan penyiangan tepat waktu. Selain mengurangi kuantitas dan kualitas hasil, gulma juga dapat bertindak sebagai inang bagi hama dan penyakit. Kehilangan hasil dikarenakan persaingan gulma sebesar 10-20%.
Gulma umumnya disiangi oleh petani secara manual, yaitu dengan menggunakan tangan maupun kaki, dengan atau tanpa alat bantu. Cara ini tentu saja banyak membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga, terutama bagi petani di luar Pulau Jawa yang lahannya relatif lebih luas. Lain halnya di pulau Jawa yang tenaga penyiang sukar didapat akibat tersedotnya tenaga kerja ke kota dan semakin kompleks karena waktu tanam yang serempak membutuhkan waktu penyiangan yang relatif serempak pula. Penyebab inilah yang akhirnya mendorong petani mengendalikan gulma secara kimiawi dengan menggunakan herbisida.
Setiap tanaman mempunyai periode kritis dalam persingannya dengan gulma. Hal ini dapat ditentukan berdasarkan fase pertumbuhan tanaman tersebut yang umumnya periode kritis tersebut sejak tanaman tumbuh hingga sepertiga pertama dari siklus hidup tanaman. Pada padi,periode kritis persaingan dengan gulma hinga tanaman berumur 40 hari pertama dari siklusnya. Penggunaan herbisida sebaiknya lebih banyak dilakukan di periode kritis tersebut.
Terdapat dua tipe herbisida menurut aplikasinya: herbisida pratumbuh (preemergence herbicide) dengan cara disebarkan pada lahan setelah diolah namun sebelum benih ditebar (atau segera setelah benih ditebar). Biasanya herbisida jenis ini bersifat nonselektif yang berarti membunuh semua tumbuhan yang ada. Jenis herbisida lainnya adalah herbisida pascatumbuh (postemergence herbicide) yang diberikan setelah benih memunculkan daun pertamanya. Herbisida jenis ini harus selektif, dalam arti tidak mengganggu tumbuhan pokoknya. Jenis gulma rumput adalah spesies yang sulit dikendalikan dikarenakan mempunyai sifat yang hampir sama dengan tanaman padi. Herbisida dengan bahan aktif butaklor, oksadiason, klometoksinil, pretilaktor dan kuinklorak diyakakini mampu mengendalikan gulma rumput. Herbisida fenoksi efektif mengendalikan gulma berdaun lebar dan teki.
Selain itu, ada metode pengendalian gulma secara langsung yang cukup efektif dengan menggunakan mesin penyiang gulma bermotor (power weeder). Keunggulan mesin penyiang ini tiga kali lebih besar dibandingkan alat penyiang manual/gasrok, sehingga dapat menekan biaya penyiangan. Kemampuan kerja 15 jam/ha untuk satu arah atau 27 jam/ha untuk 2 arah. Alat penyiang ini sangat prospektif untuk dikembangkan oleh kalangan industri alsin pertanian dalam rangka pencapaian swasembada beras. (Ume Humaedah)