Mitos Beras Hitam

beras merah

Mitos dan cerita mistis selalu menyelimuti kehadiran beras hitam. Warna gelap beras unik ini  membawa beragam kisah, yang sebagaian diantaranya terselubung rapat diantara dinding-dinding istana kerajaan dan kekaisaran. Pada jaman kekaisaran China kuno, beras hitam disebut sebagai beras terlarang (forbiden rice). Beras ini hanya boleh ditanam oleh orang tertentu, dan hanya keluarga kekaisaran yang diijinkan menikmati sajian beras ini. Para bangsawan memerintahkan agar setiap butir beras hitam diserahkan pada mereka, dan melarang keras rakyat biasa memakannya. Sementara di Jawa juga ada mitos bahwa beras hitam hanya pantas dimakan oleh keluarga kraton, atau untuk pelengkap ritual tertentu.

Apa rahasia dibalik mitos itu? Salah satu rahasianya ternyata pada keistimewaan beras hitam yang memiliki kandungan berbagai unsur mineral yang sangat baik untuk kesehatan. Dalam pertemuan American Chemical Society (ACS), para ilmuwan melaporkan khasiat luar biasa dari beras hitam. “Sesendok makan kulit ari beras hitam mengandung lebih banyak antioksidan dan antosianin yang bermanfaat bagi kesehatan jika dibandingkan dengan sesendok blueberry.  Selain itu, kadar gulanya juga lebih sedikit, lebih banyak serat dan vitamin E,” kata Zhimin Xu, staf pengajar Ilmu Pangan di Louisiana State University Agricultural Center di Baton Rouge, Louisiana.

Kandungan  antioksidan serta antosianin yang tinggi menunjukkan potensi beras hitam untuk memerangi penyakit jantung, kanker, dan penyakit lain. Xu mengatakan,  perusahaan pangan dapat menggunakan kulit ari beras hitam atau ekstrak kulit ari untuk mendorong nilai kesehatan sereal sarapan, minuman, kue, biskuit, dan penganan lain. Xu mencatat, beras hitam atau cokelat jauh lebih bernutrisi dibanding beras putih. Alasannya, kulit ari beras hitam atau cokelat lebih kaya gamma-tocotrienol, salah satu senyawa vitamin E, dan gamma-oryzanol, antioksidan yang larut dalam lemak. Antioksidan larut dalam lemak yang mereka temukan dalam kulit ari beras hitam mengandung antosianin yang jauh lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan, beras hitam dapat menjadi alternatif membersihkan racun dan toksin dari dalam tubuh (detoksifikasi), membantu memelihara ketahanan tubuh (imunitas), dan membantu memelihara keseimbangan sistem organ dan hormon.

Sebenarnya beras hitam tidak benar-benar berwarna hitam, melainkan ungu gelap, yang sepintas mirip dengan warna hitam. Warna hitam ini disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam. Antosianin pada beras hitam hanya terdapat pada kulit ari beras, karbohidrat dalam biji beras itu sendiri tetap berwarna putih. Untuk mendapatkan warna hitam, beras hitam perlu digiling tanpa disosoh habis, hingga kulit arinya tetap tersisa.

Di Indonesia beras hitam ini memiliki nama berbeda-beda, tergantung dimana beras hitam tersebut berada. Di Solo dikenal dengan Beras  Wulung, di Sleman dengan nama Cempo Ireng atau Beras Jlitheng, di Bantul disebut Beras Melik dan di kawasan  Cibeusi  Subang, beras ini dikenal Beras Gadog.  Sampai saat ini masih belum diketahui, apakah beras hitam dengan nama sebutan yang berbeda-beda tersebut memiliki plasma nutfah yang sama atau memang berbeda. Yang jelas beras hitam memiliki keistimewaan yang selama ini terkubur rapat dalam mitos. (dari berbagai sumber)