Peluang Memacu Produktivitas Kedelai

2

Selain keterbatasan lahan tanam, upaya meningkatkan produksi kedelai nasional juga terbentur pada rendahnya tingkat produktivitas tanaman yang dikelola petani. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ada peningkatan produktivitas, namun sesungguhnya potensi untuk meningkatkan produktivitas tanaman kedelai Indonesia masih sangat terbuka. Teknologi budidaya yang memungkin peningkatan produktivitas sudah tersedia, varietas benih kedelai unggul juga sudah ada. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan dan komitmen semua pihak untuk memacu produktivitas untuk menaikkan produksi kedelai nasional.

Saat ini rata-rata produktivitas kedelai nasional baru sekitar 2,5 ton/hektar, ini pun sudah naik dari 1,2 ton/hektar beberapa tahun sebelumnya. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berharap pada tahun 2017 produktivitas kedelai nasional bisa mencapai 4 ton/hektar.  Menurutnya, selain menambah luas lahan, cara meningkatkan produksi kedelai nasional adalah dengan memanfaatkan teknologi. “Pengolahan tanah dan pascapanen harus dengan teknologi.  Kita hilirisasi dengan teknologi,” ungkap Amran saat mengikuti panen raya kedeLai di Kelurahan Simpang, Kecamatan Berbak, Tanjung Jabung Timur, Jambi, beberapa waktu lalu.

Sementara menurut Dr. Dudik Harnowo dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Malang, rata-rata kebutuhan kedelai setiap tahun mencapai 2,2 juta. Sayangnya, produksi kedelai dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan secara baik. Padahal peluang peningkatan produksi kedelai di dalam negeri masih terbuka lebar, baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam.  “Produksi kedelai di tingkat petani sebenarnya masih bisa ditingkatkan melalui inovasi teknologi, strategi peningkatan produktivitas dan areal tanam,” jelasnya dalam sebuah seminar tentang kedelai di UGM, Yogyakarta beberapa waktu lalu. Dalam kaitan ini  Prof. Dr. Ir. Masyhuri, dosen Fakultas Pertanian UGM menilai, teknologi bercocok tanam petani masih kurang baik. Kurang lebih 20% petani tidak menggunakan pupuk dan baru 31% petani yang menggunakan pupuk organik dan anorganik.  (dari beberapa sumber/Sumarsono)