Pengendalian Tikus pada Tanaman Jagung

 

2

Tikus mempunyai daya reproduksi yang tinggi. Hewan pengerat ini dapat melahirkan sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Populasi tikus dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti sumber air, sarang, dan ketersediaan makanan. Pengendalian habitat tikus harus memperhatikan bioekologi hewan ini. Tikus mengandalkan indera penciuman, pendengaran, dan indera perasa untuk mendeteksi keberadaan sumber makanan.

Tikus pada umumnya menyerang pertanaman jagung di lahan sawah setelah pertanaman padi. Tikus menyerang  pada fase generatif atau fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang telah masak susu dimakan oleh tikus sehingga tongkol menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur. Bagian yang disukai tikus biasanya pada ujung tongkol sampai bagian pertengahan.

Pengendalian hama tikus dapat dilakukan secara hayati, sanitasi, mekanis, dan kimiawi. Pengendalian hayati dilakukan dengan memanfaatkan predator seperti kucing, ular, dan burung hantu. Penggunaan patogen sebagai agen pengendali tidak dianjurkan karena berdampak negatif bagi manusia. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan pembersihan dan penyempitan pematang atau tanggul.

Pengendalian secara mekanik dapat dilakukan dengan menggunakan pemagaran dengan plastik, pemasangan bubu perangkap, perangkap hidup, dan perangkap berperekat sampai penggunaan bunyi-bunyian. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan bahan beracun baik dalam bentuk ready mix bait atau ready mix dust yang banyak dijumpai di pasaran seperti Klerat Storm dan Ramontal. Penggunaan emposan menggunakan bahan fumigasi juga cukup efektif menekan populasi hama tikus. (Balai Penelitian Tanaman Serealia)