Pengendalian Tikus Secara Kimiawi

1

Pengendalian kimiawi merupakan pilihan terakhir dalam pengendalian tikus. Pengendalian ini dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat membunuh tikus atau dapat menganggu aktivitas tikus, baik aktivitas untuk makan, minum, mencari pasangan maupun reproduksi. Secara umum  pengendalian dengan  cara kimiawi dibedakan menjadi empat jenis yaitu:

  1. Rodentisida. Rodentisida atau umpan   racun   merupakan   teknologi   pengendalian  tikus yang   paling   banyak   dikenal   dan digunakan oleh petani untuk membunuh tikus sawah. Rodentisida yang dipasarkan pada umumnya dalam bentuk siap pakai, atau mencampur sendiri dengan bahan umpan. Rodentisida digolongkan menjadi racun akut dan antikoagulan. Racun akut dapat membunuh   tikus langsung  di tempat  setelah  makan  umpan, sehingga dapat menyebabkan tikus jera. Sedangkan rodentisida antikoagulan akan menyebabkan tikus mati setelah lima hari memakan umpan dengan dosis yang cukup sehingga tidak menyebabkan jera umpan. Keberhasilan pengumpanan rodentisida sangat dipengaruhi oleh waktu pengumpanan, jenis umpan dan penempatannya. Waktu yang tepat untuk pengumpanan adalah ketika di lapangan sudah tidak ada lagi pakan padi (bera) sampai padi vegetatif.
  2. Fumigasi. Bahan fumigan yang sering digunakan oleh petani sampai saat ini adalah asap belerang dan karbit. Penggunaan emposan asap belerang merupakan cara pengendalian tikus yang efektif, mudah diaplikasikan dengan biaya murah.Teknik tersebut merupakan teknik untuk membunuh tikus sawah di dalam sarang dan dapat dilakukan kapan saja atau pada periode bera dan saat pertanaman padi. Namun pengemposan yang paling efektif adalah dilakukan pada saat padi generatif, yaitu ketika tikus sawah sedang beranak di dalam sarang. Teknik tersebut dapat membunuh anak tikus bersama induknya di dalam sarang. Jenis fumigasi lainnya yang dapat dipakai adalah “tiram” dengan menggunakan teknik asap kembang api dengan bahan aktif belerang. Tiram dimasukkan ke dalam sarang tikus dan dinyalakan sumbunya, maka asap belerang akan keluar dan dapat membunuh tikus.
  3. Repellant. Repellent adalah bahan untuk menolak atau membuat tikus tidak nyaman berada di daerah yang dikendalikan. Penggunaan repellent di lapangan untuk mencegah/mengusir tikus sawah masih jarang digunakan, karena hanya bersifat mengusir dan tidak membunuh tikus. Beberapa bahan alami nabati seperti akar wangi diduga mempunyai efek repellent terhadap tikus, namun masih diperlukan penelitian yang lebih intensif.
  4. Antifertilitas. Pemandulan tikus, baik tikus jantan maupun tikus betina dapat digunakan untuk pengendalian tikus. Cara ini mempunyai prospek baik karena tikus sawah mempunyai perkembangbiakan yang cepat dan jumlah anak yang banyak dalam setiap kelahiran. Beberapa jenis bahan kimia yang digunakan untuk pemandulan manusia juga dapat digunakan untuk memandulkan tikus sawah. Kesulitan dalam penggunaan   bahan   antifertilitas   di lapangan   pada   umumnya   menyangkut  dosis  umpan yang dikonsumsi tikus sawah kurang cukup (subdosis) sehingga tikus yang mengkonsumsi bahan antifertilitas tersebut tidak efektif menjadi mandul. Ekstrak minyak biji jarak (Richinus communis) telah diteliti juga dapat digunakan sebagai  rodentisida   dan   antifertilitas  nabati. (litbang.pertanian.go.id)