Peningkatan Produksi Padi Menuju 2020

hal 12-a

Oleh: Puslitbang Tanaman Pangan
Penyediaan pangan, terutama beras dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau tetap menjadi prioritas utama pembangunan nasional. Selain merupakan makanan pokok untuk lebih dari 95% rakyat Indonesia, padi juga telah menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 20 juta rumah tangga petani di pedesaan. Ditinjau dari ketersediaan sumber daya lahan dan air, kemajuan teknologi, serta dukungan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pertanian, produksi padi nasional masih bisa ditingkatkan. Untuk perluasan areal sawah, tersedia lahan seluas 8,28 juta ha dan 60% di antaranya dapat dikembangkan menjadi lahan sawah irigasi dan tadah hujan dan sisanya merupakan lahan rawa. Potensi pengembangan lahan sawah di Papua, Kalimantan, dan Sumatera pun cukup besar yang perlu digali untuk meningkatkan ketahanan pangan penduduk. Inovasi teknologi padi yang tersedia saat ini dalam bentuk varietas unggul, pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT), penanganan panen dan pascapanen dapat diandalkan untuk mendukung program peningkatan produksi padi.

Permintaan air untuk berbagai keperluan pada tahun 2020 diperkirakan 18% dari total air tersedia, sebagian besar (66%) untuk irigasi, sisanya 17% untuk rumah tangga, 7% untuk perkotaan, dan 9% untuk industri. Namun dilihat dan rasio permintaan dan ketersediaan air, pulau Jawa yang memiliki rasio kurang dari 40% kemungkinan akan mengalami kekurangan air. Pemeliharaan waduk yang ada dan pembangunan waduk baru merupakan hal mendesak untuk segera dilaksanakan.

Pada periode 2000-2006, jumlah penduduk Indonesia meningkat dengan laju pertumbuhan 1,36% per tahun sementara konsumsi beras diperkirakan 137 kg per kapita. Dengan asumsi laju pertumbuhan penduduk menurun 0,03% per tahun, maka konsumsi beras pada tahun 2010, 2015, dan 2020 diproyeksikan berturut-turut sebesar 32,13 juta ton, 34,12 juta ton, dan 35,97 juta ton. Jumlah penduduk pada ketiga periode itu diperkirakan berturut-turut 235 juta, 249 juta, dan 263 juta jiwa. Tekanan terhadap kebutuhan beras ini akan berkurang apabila diversifikasi konsumsi pangan berhasil dilaksanakan.

Untuk mengimbangi permintaan beras dalam negeri, ada dua skenario upaya peningkatan produksi beras, yaitu skenario swasembada dan skenario ekspor. Skenario swasembada menggunakan trend pertumbuhan produksi 2000-2006, di mana areal panen sedikit menurun (0,01% per tahun) tetapi produktivitas masih meningkat rata-rata 0,82% per tahun. Indonesia telah berhasil kembali meraih swasembada beras, bahkan terdapat surplus sebesar 2,68 juta ton. Jika surplus beras tersebut digunakan untuk stok pangan nasional sebesar 3 juta ton, maka pada tahun 2008 belum ada peluang untuk mengekspor beras. Indonesia baru memiliki peluang ekspor beras pada tahun 2009, dengan kecenderungan surplus produksi yang menurun menjadi 1,84 juta ton pada tahun 2015 dan 1,47 juta ton pada tahun 2020.

Untuk mengamankan posisi ekspor, skenario yang direkomendasikan adalah memperluas areal tanam melalui peningkatan indeks pertanaman (IP), disertai dengan upaya peningkatan produktivitas (skenario ekspor). Berdasarkan potensi yang dimiliki, peluang ekspor beras meningkat menjadi 5,18 juta ton dan 5,93 juta ton berturut-turut pada tahun 2015 dan 2020. Surplus produksi akan lebih meningkat lagi apabila pembukaan lahan baru seluas 1,5 juta ha dapat terealisasi. Meski demikian, dorongan untuk ekspor seyogianya dilandasi oleh perhitungan yang cermat dari segi keuntungan yang bisa diperoleh terkait dengan negara tujuan dan harga beras di pasar internasional serta keberhasilan penyediaan beras yang cukup bagi seluruh penduduk Indonesia. Kecukupan pangan di tingkat nasional belum tentu dibarengi dengan ketersediaan yang cukup di tingkat rumah tangga karena berkaitan dengan daya beli dan distribusinya.

Operasionalisasi peningkatan produksi padi hingga tahun 2020 ditempuh dengan strategi: 1) pemanfaatan sumber daya lahan dan air, dan 2) pemanfaatan sumber daya teknologi. Strategi pemanfaatan sumber daya lahan dan teknologi dapat dijabarkan lebih lanjut dalam beberapa kebijakan. Strategi pemanfaatan sumber daya lahan dan air dijabarkan dalam kebijakan: (1) peningkatan IP, dan (2) pembukaan lahan baru bagi persawahan. Strategi pemanfaatan sumber daya teknologi dijabarkan dalam kebijakan: (1) peningkatan produktivitas, (2) peningkatan stabilitas hasil, (3) penekanan tingkat kehilangan hasil pada saat panen dan pascapanen, dan (4) penekanan senjang hasil antara tingkat penelitian dengan tingkat petani dan antarlokasi.

Upaya peningkatan produksi padi harus dikaitkan dengan upaya peningkatan pendapatan petani. Sumber pertumbuhan peningkatan nilai tambah bagi petani meliputi: (1) pengembangan agroindustri pedesaan, (2) konsolidasi manajemen usaha pertanian di tingkat petani untuk meningkatkan posisi tawar petani, (3) pengembangan warehouse system untuk tunda jual dan peningkatan mutu produk, dan (4) penerapan PTT padi yang terintegrasi dengan komoditas lain.

Untuk menjalankan skenario ekspor dibutuhkan investasi sebesar Rp 206,37 triliun. Dana tersebut diperuntukkan bagi pengadaan traktor, thresher, dan RMU, rehabilitasi jaringan irigasi, biaya operasional dan pemeliharaan (OP) jaringan irigasi, sarana dan prasarana penyuluhan, dan perakitan varietas unggul baru padi, termasuk padi hibrida. Dalam kurun waktu 2009-2020, investasi tersebut akan memberi keuntungan bagi petani dan tambahan produksi padi senilai Rp 110,01 triliun dengan nisbah R/C 2,01.
Pencapaian skenario ekspor ditentukan oleh prasyarat dan dukungan kebijakan yang mencakup: 1) penyediaan lahan untuk pertanian berkelanjutan (lahan abadi), 2) pembangunan dan perbaikan infrastruktur, 3) pengembangan kawasan, 4) pembiayaan, 5) penelitian dan pengembangan, 6) promosi dan proteksi, 7) kemudahan dalam proses perizinan investasi, 8) subsidi dan penanggulangan risiko turunnya harga gabah pada saat panen raya, dan 9) keberhasilan program diversifikasi pangan.