Pertanian Mesir , Jejak Peradaban Lembah Sungai Nil

 

Jelajah 57

Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 6.400 kilometer. Sungai Nil bersumber dari mata air di pegunungan Kilimanjaro di Afrika Timur. Sungai Nil mengalir dari arah selatan ke utara bermuara ke Laut Tengah. Ada empat negara yang dilewati sungai Nil yaitu Uganda, Sudan, Ethiopia dan Mesir. Setiap tahun sungai Nil selalu banjir. Luapan banjir itu menggenangi daerah di kiri kanan sungai, sehingga menjadi lembah yang subur selebar antara 15 sampai 50 kilometer.

Menurut mitos, air sungai yang mengalir terus tersebut adalah air mata Dewi Isis yang selalu sibuk menangis dan menyusuri sungai Nil untuk mencari jenazah puteranya yang gugur dalam pertempuran. Namun secara ilmiah, air tersebut berasal dari gletsyer yang mencair dari pegunungan Kilimanjaro sebagai hulu sungai Nil. Peranan sungai Nil begitu penting bagi lahirnya kehidupan masyarakat di lembah sungai tersebut. Maka tepatlah jika Herodotus menyebutkan “Mesir adalah hadiah sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile).

Peradaban Mesir dari jaman kuno hingga saat ini tidak ada artinya tanpa kehadiran Sungai Nil yang terus mengalir dari Upper Egypt (selatan) hingga Lower Egypt (utara). Sungai Nil disebut-sebut sebagai sumber kehidupan dan peradaban sejak 3.000 S.M, karena melalui sungai inilah masyarakat memperoleh air minum, mengairi ladang dan minum ternak, menangkap ikan sekaligus dipakai sebagai jalur transportasi. Sampai saat ini, dimana populasi penduduk Mesir dewasa mencapai 80 juta jiwa, sekitar 95 persen di antaranya lebih menyukai tinggal di pinggiran Sungai Nil, terutama Iskandariyah dan Kairo, dan sepanjang Delta Nil dan dekat Terusan Suez.

Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan dan prioritas utama dalam pembangunan Mesir. Total area pertanian mencapai kurang lebih 8.47 juta feddans (1 feddans=0.42 Ha) dan proyek-proyek pembangunan secara vertikal sudah dibangun untuk meningkatkan produksi pertanian sehingga diharapkan produksinya setara dengan 14,6 juta feddans. Walaupun sudah diterapkan berbagai teknologi pertanian yang relatif modern (mekanisasi pertanian, cold storage, mesin penangkap energi surya dan lain-lain), Mesir dikenal pula sebagai salah satu negara agraris yang tetap mempertahankan praktek-praktek dan kegiatan pertanian tradisional, misalnya pengairan dengan cara menampung/mengumpulkan air hujan, aplikasi pupuk organik, rotasi tanaman, dan intensifikasi pertanian.

Komoditas utama pertanian yang dikembangkan untuk daerah-daerah subur adalah barley dan gandum untuk pembuatan roti. Sebagai bahan makanan pokok masyarakatnya jagung, kapas, kentang, dan padi. Bawang merah, bawang putih, terong, buncis, kol, mentimun, adalah sebagian jenis sayuran yang hanya ditanam pada lahan yang tidak terlalu luas. Tanaman rami banyak dimanfaatkan untuk minyak dan membuat bahan tekstil linen. Sedangkan buah-buahan yang dibudidayakan adalah anggur, kurma, dan sitrus. (ajat Jatnika/ fitribubbles/Bayu)