Petrokimia Gresik Dukung Pengembangan Padi Salibu

 

info petro 555

Petrokimia Gresik menjalin kerja sama dengan petani di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur dalam menerapkan sistem Salibu (Salin Ibu) untuk meningkatkan produktivitas padi di wilayah ini. Salibu merupakan sistem budidaya padi yang dikembangkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat. Pada sistem ini, padi yang sudah dipanen, dibiarkan bertunas kembali dan dipelihara sampai panen kembali.

Direktur Utama Petrokimia Gresik,  Hidayat Nyakman mengatakan, sistem Salibu bertujuan meningkatkan indeks pertanaman yang disebabkan oleh waktu tanam yang pendek dan hasil yang lebih banyak. Selain itu, sistem ini juga mampu menghemat biaya operasional penanaman yang dikeluarkan petani karena mereka tidak lagi memerlukan benih baru dan tidak melalui proses persemaian, pengolahan lahan atau bajak dan penanaman. “Tujuan peningkatan indeks pertanaman sebanding dengan peningkatan produksi padi per hektar sawah,” katanya di sela acara panen raya padi dengan sistem Salibu di Desa Widodaren, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi, Sabtu (6/6).

Berdasarkan hasil penelitian BPTP Jawa Timur, dalam sistem ini ternyata tidak terjadi penurunan hasil panen yang signifikan apabila dibandingkan dengan sistem tanam konvesional pindah tanam. Contohnya, hasil panen dengan sistem Salibu di Desa Widodaren ternyata sama dengan sistem pindah tanam, yakni rata-rata mencapai 6,5 ton gabah kering panen per hektarnya, bahkan ada yang lebih dari itu. “Dari pengalaman petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Widya Tani di Desa Widodaren, penghematan biaya budidaya dari penerapan sistem Salibu mencapai Rp 5 juta per musim tanam,” jelas Hidayat. Pada penerapan sistem Salibu tersebut, Petrokimia Gresik juga mengawal pola pemupukan berimbang, yakni 5:3:2 atau 500 kg pupuk Petroganik, 300 kg NPK/Phonska dan 200 kg Urea pada setiap hektar sawah.

Menurut Harmunanto, penyuluh pertanian dari Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) Ngawi, dia dan beberapa penyuluh dan petani sudah melakukan studi banding di Jombang dan Madiun, yang sudah melakukan budidaya Salibu. Berdasarkan informasi dari Erdiman dan para petani yang sudah sukses mengembangan padi Salibu, akhirnya petani di Kecamatan Gerih yakin untuk melakukan budidaya Salibu di lahan seluas 34 hektar pada bulan Maret 2015. “Total lahan seluas 34 hektar yang diujicoba tersebar di 3 desa, 20 hektar di Desa Widodaren, 8 hektar di Guyung dan 6 hektar di Desa Randu Songo. Saya jelaskan kepada para petani bahwa secara teknis Salibu bisa diterapkan di lahan mereka, lebih-lebih ketika mereka tahu bahwa secara ekonomi lebih menguntungkan,” ujarnya.

Sementara Jumadi, Ketua Gapoktan Sido Makmur, Kecamatan Gerih, yang sudah menanam padi Salibu menilai, padi Salibu lebih menguntungkan dibandingkan padi biasa. Pada lahannya dengan luas 1,5 hektar dia mendapatkan hasil panen yang kedua sebanyak 7 ton per hektar.  Biayanya juga lebih murah dibanding dengan sistem tanam pindah (tapin). “Pada tanam kedua cukup dengan biaya Rp. 650 ribu saja, dibandingkan dengan ketika mulai menanam lagi, saya harus mengeluarkan biaya minimal Rp. 5 juta,” kata Jumadi.

Kendala yang dihadapi petani adalah pasokan air, yang menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan panen. Hal ini diungkapkan oleh Dandim 0805 Ngawi Kol. (Inf) Sugiyono, yang juga melakukan panen bersama dengan Danrem 081/DSJ Kol. Czi M. Reza Utama dan Muspida Ngawi. “Untuk mengatasi masalah pasokan air, kami melibatkan Dinas PU untuk pembuatan sumur dan PLN untuk pasokan pompanya. Alhamdulillah, dengan bantuan semua pihak, termasuk Petrokimia Gresik dan Petrokimia Kayaku, semua masalah dapat diatasi dan berhasil panen dengan memuaskan,” ungkapnya. (Made Wirya)