PHONSKA Plus, NPK dengan 2000 ppm Zink

npk-plus

Pena sejarah tidak pernah berhenti menuliskan berbagai keberhasilan yang diperoleh Petrokimia Gresik. Sejak diresmikan pada 10 Juli 1972, tercatat beberapa prestasi yang dibuat pabrik pupuk terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara itu. Utamanya keberhasilan dalam membuat produk yang diminati pasar. Sebut saja nama-nama produk seperti PHONSKA, Petroganik, Petro Biofertil, dan Petro Hibrid. Hal tersebut menandakan bahwa Petrokimia Gresik masih dipercaya oleh konsumen, baik untuk produk subsidi maupun non subsidi,.

Dengan berbagai capaian tersebut, Petrokimia Gresik tidak pernah berhenti untuk terus berinovasi. Kali ini pabrik pupuk berlogo kebo mas ini meluncurkan PHONSKA Plus, pupuk NPK yang mengandung 15 % nitrogen, 15 % Fosfat, 15 % Kalium, 9 % Sulfur, dan 2000 part per million (ppm) Zink. Menurut Direktur Utama Petrokimia Gresik Nugroho Christijanto, kata “plus” di sini mengacu pada tambahan Zink sebanyak 2000 ppm.

“Tambahan Zink sebanyak 2000 ppm pada PHONSKA Plus, sangat bermanfaat untuk meningkatkan kadar Zink pada tanah. Sebab menurut  International Fertilizer Asocciation atau IFA, Indonesia termasuk negara dengan tingkat defisiensi Zink yang cukup tinggi,” jelas Nugroho.  Hal ini diperkuat dengan data dari Balai Penelitian Tanah Bogor, yang menyatakan bahwa 30 % tanah di Jawa, NTB dan Sulawesi, mengalami defisit Zink hingga di bawah 1 ppm.  Idealnya, agar tanaman tumbuh dengan sempurna, kandungan Zink harus di atas 1 ppm. “ Selain itu, PHONSKA Plus merupakan salah satu produk alternatif untuk memenuhi kebutuhan pupuk non subsidi. Baik untuk komoditas tanaman pangan, hortikultura, maupun tanaman perkebunan,” ungkapnya.

Direktur Pemasaran Petrokimia Gresik mengungkapkan, sebelum PHONSKA Plus diproduksi, dilakukan riset secara intensif, terperinci  dan mendalam. Riset tersebut mencakup uji formulasi penambahan Zink  di laboratorium,   dan uji efektivitas dalam  skala rumah kaca.  Hal ini dilakukan untuk mengetahui kadar Zink yang optimal terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi. Selain itu juga dilakukan uji aplikasi  PHONSKA Plus pada skala lapang, di beberapa provinsi di Indonesia. Uji aplikasi tersebut bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, BPTP Jawa Timur, BPTP Bali, BPTP NTB, dan BPTP Jawa Tengah.

Uji aplikasi, dengan 500 kg Petroganik, 300 kg  PHONSKA Plus, dan 200 kg (padi) / 300 kg (jagung) Urea, berhasil meningkatan panen sebesar 12 %. Dibandingkan dengan perlakuan yang menggunakan PHONSKA tanpa Zink. “Demplot tersebut kami lakukan pada 989 titik di 8 provinsi, yaitu: Jawa Barat, Banten, DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT,” paparnya. Meinu optimis PHONSKA Plus akan diminati oleh konsumen,  mengingat bahwa selama Oktober – November 2016, total realisasi permintaan mencapai 3.000 ton. Dari jumlah tersebut,  tercatat 2000 ton dari Jawa – Bali, dan 1000 ton dari berbagai daerah di Indonesia, utamanya Sumatra dan Sulawesi.

Realisasi produksi PHONSKA Plus telah mencapai lebih dari 3.000 ton, yang sudah didistribusikan ke sejumlah daerah. Hal ini disampaikan oleh Direktur Produksi Petrokimia Gresik I Ketut Rusnaya.  Pada Oktober sampai dengan Desember 2016 kembali menargetkan produksi sebanyak 15.000 ton, disusul kemudian sebanyak 100.000 ton pada tahun 2017. “Untuk menghasilkan produk yang berkualitas, dilakukan pengawasan yang ketat pada proses produksi PHONSKA Plus. Dimulai dari pemilihan bahan baku, proses granulating, drying, screening, uji laboratorium pada produk jadi,  hingga  penyimpanan di gudang,” terangnya. (Aditya Herwin)