Tentang Kentang

2

Ada anekdot lucu tentang potensi pangan lokal berbasis umbi-umbian; Semua jenis umbi-umbian termasuk makanan kelas bawah, kecuali kentang. Artinya, singkong, ubi jalar, suweg, gembili, dan berbagai jenis umbi-umbian yang ada di negeri ini dikategorikan sebagai makanan kelas jelata, sementara kentang masuk kategori makanan elite. Mengapa demikian? Jawabnya ternyata sederhana, kentang merupakan umbi-umbian impor yang dibawa bangsa Eropa, dan pangan olahan berbahan baku kentang juga memiliki cita rasa Eropa.

Anekdot itu memang belum tentu benar, namun bisa menjadi gambaran alam bawah sadar penghuni negeri ini; semua yang serba barat dan Eropa dinilai memiliki ‘harga’ lebih tinggi dibandingkan yang lokal. Paradigma berpikir peninggalan penjajah Belanda yang dengan sengaja mencangkokkan nilai-nilai kelas bawah, abdi dalem, dan pelayan pada rakyat pribumi ternyata masih menempel hingga sekarang, dan lucunya berimbas hingga pesepsi tentang bahan makanan. Lihat saja, kentang goreng di Mc Donald atau KFC dianggap lebih bergengsi dan membanggakan dibandingkan singkong atau ubi jalar goreng.

Kalau analisis ini benar tentu yang menjadi korban adalah umbi-umbian dan semua bahan pangan lokal. Mereka akan tersisih dan terbuang dari daftar menu makan dan hidangan, digantikan dengan semua bahan baku impor. Padahal sesungguhnya potensi pangan lokal tidak kalah dengan bahan pangan impor, tidak saja dari aspek gizi tetapi juga keunggulan kualitas bahan bakunya. Yang dibutuhkan hanyalah upaya untuk meningkatkan kualitas penyajian serta kreativitas untuk mengemas menjadi makanan yang bergengsi. Lihat saja, kalau dulu bakpao hanya terbuat dari tepung terigu, sekarang bakpao ubi jalar ungu juga mulai merajai pasar, bahkan sudah dibuat ice cream, kue, dan berbagai produk olahan ‘elite’ lainnya.

Namun kita tentu tidak pantas menjadikan kentang sebagai ‘tersangka’ dalam arus pergulatan budaya makan ini. Buktinya, kentang juga sudah mampu mentranformasi diri menjadi umbi lokal yang sangat toleran pada iklim dan cuaca tropis. Umbi Eropa ini sekarang telah menjadi warga lokal di kawasan Pengalengan, Dieng, Malang dan beberapa daerah lainnya. Kentang juga telah terbukti mampu menurunkan anak cucu varietas berdarah dan berkarakter lokal. Artinya, sesungguhnya kentang sudah menjadi umbi lokal, tidak berbeda dengan singkong, suweg dan ubi jalar. Hanya wajahnya saja memang masih ‘bule’ khas Eropa.

Oleh karena itu, tidak salah bila kita juga memberi perhatian besar pada potensi kentang mengingat kebutuhan pada komoditas ini juga sangat besar. Daripada mengimpor dalam jumlah besar, akan lebih baik bila potensi yang ada terus dikembangkan agar produksi kentang lokal bisa melesat untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Perhatian pada penyediaan benih unggul berkualitas yang murah, dukungan modal, serta perlindungan harga menjadi tugas pemerintah dan berbagai pihak lain untuk mengangkat potensi produksi kentang lokal. Sementara para petani diharapkan terus bekerja keras dan kreatif untuk bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman kentangnya. Sementara Petrokimia Gresik sebagai produsen pupuk dan sarana produksi pertanian tentu akan selalu siap menyediakan berbagai kebutuhan petani.

Ayo kita kembangkan kentang dan umbi-ubian lokal untuk mengokohkan ketahanan pangan nasional.